Sang Motivator Ummat

Sang Motivator Ummat

Sang Motivator Ummat

Sang Motivator Ummat

Sang Motivator Ummat

Sang Motivator Ummat

Sang Motivator Ummat

Sang Motivator Ummat

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 15 Juni 2009

Kenikmatan atau Penderitaan Abadi?

“Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu, dan tidak akan meminta hartamu”. (Q.S Muhammad : 36)

Kenikmatan sesaat atau yang sering disebut dengan Hedonisme merupakan penyakit yang telah lama menimpa umat ini. Banyak diantara kita yang sering terjebak dengan penyakit ini. Apalagi dunia anak muda yang sangat sarat dengan dunia glamour, dunia hura-hura. Mereka berpesta pora sambil melantunkan lagu-lagu yang syairnya banyak mengandung makna syirik yang hanya mencari kenikmatan sesaat. Kita lihat saja sekarang, hampir tiap minggu mereka mengadakan festival band yang tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Pokoknya, prinsip mereka adalah yang penting gue senang. Mereka seakan-akan lupa bahwa siapa dirinya sebenarnya.

Apalagi dalam dunia pergaulannya, mereka telah lupa bahkan tidak mau tahu tentang ajaran islam itu sendiri. Terjadilah perkumpulan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya. Mereka bersenda gurau, berpegangan tangan walaupun bukan muhrim, bahkan sampai hubungan seks bebas. Na’udzubillahi min dzalik. Nabi Muhammad bersabda :
“sudah ditakdirkan bagi anak cucu Adam bagian dari zina yang pasti akan menimpanya. Kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, zina lisan ialah ucapan, zina tangan ialah memegang, zina kaki ialah melangkah dan zina hati ialah menghendaki sesuatu, berangan-angan dan kemaluannya membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud)

Inilah salah satu dari hedonisme yang menimpa banyak manusia, utamanya pemuda. Hal itu adalah Zina. Zina mata, mereka dengan leluasa memandang hal yang sebenarnya tidak boleh dilihat, utamanya aurat yang notabenenya adalah bukan muhrim yang dimana orang itu juga tidak mempunyai rasa malu untuk mengumbar auratnya, utamanya kaum perempuan. Zina telinga, mereka saling menikmati suara satu sama lainnya, utamanya jika saling menelepon. Disanalah mereka saling menikmati suara itu. Dan tanpa sadar mereka telah berzina. Apalagi jika seorang laki-laki menelpon seorang wanita tanpa suatu keperluan yang jelas, kemudian dia meloudspeaker suara HPnya dan diperdengarkan kepada teman laki-laki lainnya,maka tanpa sadar, sesungguhnya mereka telah melakukan Zina Party (pesta zina). Dan begitu pula dengan jenis zina lainnya yang telah membuat banyak manusia lalai dari hakikat mereka yang sebenarnya.
Itulah kenikmatan sesaat yang telah ditiupkan oleh syetan la’natullah.

Kenikmatan sesaat yang telah membuat manusia terlena oleh dunia. Apalagi penyakit generasi muda yang
sangat menjamur dikalangannya yakni Pacaran. Di dunia pacaran itulah merupakan peluang yang sangat besar terjadinya semua jenis zina yang telah dipaparkan diatas. Bahkan mereka telah berbuat syirik dalam dunia pacaran itu. Dimana, mereka mempersembahkan semuanya hanya untuk pacarnya.

Oleh karena itu, marilah kita merenung. Bayangkan, jika kita saling berduaan dengan pacar, kemudian saat itu kita meninggal?. Bayangkan, jika kita saling menikmati suara bukan muhrim kita melalui telepon ataupun bertatapan langsung, kemudian saat itu kita meninggal?. Bayangkan, jika kita melantunkan lagu-lagu yang tidak sesuai dengan syari’ah sebenarnya, kemudian saat itu kita meninggal?. Bayangkan, jika kita meninggal dalam keadaan seperti itu?. Bayangkan, jika kita meninggal dalam keadaan tidak diridhai oleh Allah swt?. Apakah kita yakin bahwa kita akan masuk surga, yang didalamnya terdapat kenikmatan abadi yang tak akan kita dapatkan di muka ini yang hanya menjanjikan kenikmatan sesaat?. Sekarang pilihannya ada pada diri kita masing-masing, ingin surga yang menjanjikan kenikmatan abadi, ataukah neraka yang menjanjikan penderitaan abadi?.

Ibnu al-Mu’atz menggubah syair :

"Jauhilah dosa-dosa, kecil, maupun besar, itulah takwa
Berbuatlah seperti orang yang berjalan diatas tanah berduri melihat dengan hati-hati.
Jangan sepelekan dosa kecil, Karena sesungguhnya gunung itu terdiri dari pasir."

Ingat, hidup ini sekejap tapi beresiko. jangan karena mencari kenikmatan sesaat, kita menderita berkepanjangan. Hidup bukan untuk hidup tapi untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati tapi justru karena mati itulah kita hidup. Oleh karena itu, jangan takut mati, jangan cari mati, jangan lupa mati tapi rindukanlah mati. karena mati adalah pintu untuk berjumpa dengan-Nya (Allah swt Penguasa alam semesta).
Wallahu a’lam

Sri Wahyudi
"Sang Motivator Ummat"

Sabtu, 13 Juni 2009

Tafakkur terhadap diri sendiri

Tafakkur adalah memikirkan dan merenungkan dengan sungguh-sungguh akan kebesaran Allah SWT. Ali Radhiyallahu Anhu pernah berkata: “Tiada ibadah yang nilainya sebanding dengan tafakkur”. Sebagian ahli ma’rifat berkata: “Tafakkur itu merupakan pelita hati. Ketika tafakkur hilang, maka tidak ada pelita lagi bagi hati.” Dalam 1 Hadits disebutkan: “Tafakkur sesaat lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun.” Menurut Syaikh Al-Hifni, maksud Hadits ini adalah bahwa tafakkur tentang semua ciptaan Allah, tentang sakaratul maut, tentang siksa kubur, dan tentang kesulitan-kesulitan yang terjadi pada hari Kiamat, lebih baik daripada ibadah banyak. oleh karena itu sebagai kader dakwah, sepatutnyalah kita sering-sering bertafakkur utamanya tentang diri kita sendiri. karena jangan sampai kita yang sering mendakwahi orang lain untuk berbuat, malah kita sendiri yang yang jarang berbuat baik. Allah swt berfirman:

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS Al-Baqarah: 44)

ini adalah sebuah sandaran bagi kita agar tidak lupa memikirkan diri sendiri. karena jika tidak kita akan terjebak dalam suatu hal yang disebut berani berkata tapi tdak berani berbuat alias “munafik”. Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”. (Q.S Ash- Shaff : 2-3)

Oleh karena itulah kita diperintahkan untuk bertafakkur terhadap diri sendiri. saya sering mengatakan kepada masyarakat bahwa “janganlah berani berbicara masalah agama jika kita tidak membaca Al-Qur’an minimal selembar dalam sehari”. karena bagaimana caranya kita bisa berbicara masalah agama jika landasan agama itu sendiri tidak pernah kita baca.

ikhwah fillah,

Allah swt mengajak kita untuk berpikir dan merenung terhadap diri kita sendiri. Kita selalu mengajarkan hal-hal yang baik kepada yang lain, tetapi kita sendiri sering melupakan dengan hal-hal itu. Sehingga jika kita sering memberikan pelajaran atau da’wah kepada kaum muslimin yang lain, kita harus juga mengetahui bahwa pelajaran-pelajaran itu juga untuk diri kita sendiri, oleh karena itu kita dituntut juga untuk selalu meningkatkan amal sholeh dari apa yang kita sampaikan kepada kaum yang lainnya. Sehingga jika kita melupakannya, Allah swt mengingatkannya apakah kita tidak berpikir tentang hal itu.




Tidak ada di antara kita yang tidak berkinginan untuk mendapatkan keberuntungan atau kesuksesan. Oleh karena itu Allah swt mengajak orang-orang yang mempunyai pikiran (akal) untuk selalu memperhatikan antara yang baik dan buruk dalam kehidupan kita. Dan ternyata sekarang ini apa-apa yang tidak baik di sisi Allah swt lebih banyak memberikan pengaruh kepada kita, kaum muslimin, dan bahkan memberikan daya tarik yang luar biasa. Disinilah kita perlu mempunyai pikiran kenapa hal itu terjadi dan bagaimana memberikan jawabannya.

“Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al-Maidah: 100)

ikhwah fillah,

Selain itu kita harus memikirkan tentang keberadaan kita di muka bumi ini. kita diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Nah, tanyakan kepada diri kita, sudahkah kita beribadah kepada Allah dengan baik?. sudahkah melaksanakan amala-amalan sunnah dengan baik?. Atau jangan-jangan kita masih sering masbuk dalam shalat wajib kita, ataukah kita masih susah untuk bangun malam untuk bermunajat kepada Allah dengan shalat lail. atau mungkin kita masih lalai dari aktivitas ibadah kita?. pan ini semualah yang patut untuk kita renungi dan pikirkan. karena kita adalah manusia biasa yang tak luput dari dosa. tinggal kita yang berusaha untuk meminimalkan dosa itu.

ikhwah fillah,

Ingat, hidup ini sekejap tapi beresiko. jangan karena mencari kenikmatan sesaat, kita menderita berkepanjangan. Hidup bukan untuk hidup tapi untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati tapi justru karena mati itulah kita hidup. Oleh karena itu, jangan takut mati, jangan cari mati, jangan lupa mati tapi rindukanlah mati. karena mati adalah pintu untuk berjumpa dengan-Nya (Allah swt Penguasa alam semesta).

Senin, 08 Juni 2009

RENUNGAN DUNIA MAYA


Dunia maya merupakan sebuah dunia yang sangat menakjubkan. Sampai-sampai ada orang yang rela meluangkan waktunya siang dan malam hanya untuk berselancar di dunia maya. Apalagi sekarang dengan munculnya fasilitas FACEBOOK yang merupakan salah satu jaringan komunikasi dunia maya, membuat masyarakat semakin ketagihan dengan dunia maya. Apalagi para aktivis dakwah, dunia facebook merupakan lahan dakwah yang sangat efektif untuk digunakan dalam rangka menyebarkan syariah Islam.

Tapi, apa yang terjadi jika para aktivis itu juga ternyata menyalahgunakan fasilitas ini?. dan itulah kenyataannya sekarang. Memang pada saat awal menggunakan facebook, banyak yang mengatakan bahwa ,“tidak apa-apa kita menggunakan fasilitas orang yahudi ini, asalkan kita gunakan untuk dakwah”. Tapi, yang terjadi setelahnya adalah banyak diantara mereka yang jauh apa yang dikatakan sebelumnya. yang terjadi adalah terjadinya komunikasi antara ikhwan dan akhwat secara berlebihan yang tidak sesuai dengan tuntunan syariah. Mereka malah asyik berkomunikasi dan melupakan komitmennya. Padahal dalam Islam telah diatur batasan-batasan komuniksasi antara ikhwan dan akhwat. Tapi dalam dunia maya khususnya facebook, batasan-batasan itu seakan-akan mereka lupakan dan tidak dihiraukan. Malah sampai tukar-tukaran nomor handphone. Hal itu sebenarnya tidak menjadi masalah jika digunakan untuk yang benar. Tapi yang salah adalah jika hal itu digunakan untuk menjalin komunikasi tanpa batas yang menyimpang dari syariah Islam. Apalagi jika didalamnya kebanyakan hanya bercanda satu sama lainnya yang melalaikan dari tuntunan yang sebenarnya.




Entah tahu atau tidak, sesungguhnya kita telah terjebak oleh misi yahudi. Banyak diantara kita yang berhasil dirayu oleh yahudi hanya karena dunia maya khususnya facebook ini. kaum itu telah berhasil membawa banyak manusia jauh dari syariah Islam. Membuat manusia lalai dari ibadahnya. Makanya jangan heran jika kita mendengar beberapa ulama yang mengeluarakan fatwa HARAM untuk facebook. Itulah luapan kekhawatiran mereka jika banyak muslim yang menyalahgukanakan facebook ini.

Namun terlepas dari fatwa itu, hal itu dikembalikan kepada niat dan komitmen kita masing-masing. Oleh karena itu wahai saudaraku, ingatlah bahwa kehidupan ini hanyalah sebuah permainan. Ibarat permainan sepakbola, namanya permainan tapi serius dalam bermain. Salah sedikit saja, maka akan kebobolan. Marilah kita merekomitmen kita untuk senantiasa menyebarkan syariah agama ini. jangan sampai kita terlena dengan kehidupan dunia yang sesaat ini.

Hidup ini sekejap tapi beresiko. Jangan karena mencari kenikmatan sesaat kita menderita berkepanjangan. Hidup bukan untuk hidup tapi untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi justru karena mati itulah kita hidup. Oleh Karena itu jangan takut mati jangan cari mati, jangan lupa mati tapi rindukanlah mati.karena mati adalah pintu untuk berjumpa dengan-Nya (Allah swt Penguasa Alam semesta)