Tafakkur adalah memikirkan dan merenungkan dengan sungguh-sungguh akan kebesaran Allah SWT. Ali Radhiyallahu Anhu pernah berkata: “Tiada ibadah yang nilainya sebanding dengan tafakkur”. Sebagian ahli ma’rifat berkata: “Tafakkur itu merupakan pelita hati. Ketika tafakkur hilang, maka tidak ada pelita lagi bagi hati.” Dalam 1 Hadits disebutkan: “Tafakkur sesaat lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun.” Menurut Syaikh Al-Hifni, maksud Hadits ini adalah bahwa tafakkur tentang semua ciptaan Allah, tentang sakaratul maut, tentang siksa kubur, dan tentang kesulitan-kesulitan yang terjadi pada hari Kiamat, lebih baik daripada ibadah banyak. oleh karena itu sebagai kader dakwah, sepatutnyalah kita sering-sering bertafakkur utamanya tentang diri kita sendiri. karena jangan sampai kita yang sering mendakwahi orang lain untuk berbuat, malah kita sendiri yang yang jarang berbuat baik. Allah swt berfirman:
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS Al-Baqarah: 44)
ini adalah sebuah sandaran bagi kita agar tidak lupa memikirkan diri sendiri. karena jika tidak kita akan terjebak dalam suatu hal yang disebut berani berkata tapi tdak berani berbuat alias “munafik”. Allah swt berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”. (Q.S Ash- Shaff : 2-3)
Oleh karena itulah kita diperintahkan untuk bertafakkur terhadap diri sendiri. saya sering mengatakan kepada masyarakat bahwa “janganlah berani berbicara masalah agama jika kita tidak membaca Al-Qur’an minimal selembar dalam sehari”. karena bagaimana caranya kita bisa berbicara masalah agama jika landasan agama itu sendiri tidak pernah kita baca.
ikhwah fillah,
Allah swt mengajak kita untuk berpikir dan merenung terhadap diri kita sendiri. Kita selalu mengajarkan hal-hal yang baik kepada yang lain, tetapi kita sendiri sering melupakan dengan hal-hal itu. Sehingga jika kita sering memberikan pelajaran atau da’wah kepada kaum muslimin yang lain, kita harus juga mengetahui bahwa pelajaran-pelajaran itu juga untuk diri kita sendiri, oleh karena itu kita dituntut juga untuk selalu meningkatkan amal sholeh dari apa yang kita sampaikan kepada kaum yang lainnya. Sehingga jika kita melupakannya, Allah swt mengingatkannya apakah kita tidak berpikir tentang hal itu.
Tidak ada di antara kita yang tidak berkinginan untuk mendapatkan keberuntungan atau kesuksesan. Oleh karena itu Allah swt mengajak orang-orang yang mempunyai pikiran (akal) untuk selalu memperhatikan antara yang baik dan buruk dalam kehidupan kita. Dan ternyata sekarang ini apa-apa yang tidak baik di sisi Allah swt lebih banyak memberikan pengaruh kepada kita, kaum muslimin, dan bahkan memberikan daya tarik yang luar biasa. Disinilah kita perlu mempunyai pikiran kenapa hal itu terjadi dan bagaimana memberikan jawabannya.
“Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al-Maidah: 100)
ikhwah fillah,
Selain itu kita harus memikirkan tentang keberadaan kita di muka bumi ini. kita diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Nah, tanyakan kepada diri kita, sudahkah kita beribadah kepada Allah dengan baik?. sudahkah melaksanakan amala-amalan sunnah dengan baik?. Atau jangan-jangan kita masih sering masbuk dalam shalat wajib kita, ataukah kita masih susah untuk bangun malam untuk bermunajat kepada Allah dengan shalat lail. atau mungkin kita masih lalai dari aktivitas ibadah kita?. pan ini semualah yang patut untuk kita renungi dan pikirkan. karena kita adalah manusia biasa yang tak luput dari dosa. tinggal kita yang berusaha untuk meminimalkan dosa itu.
ikhwah fillah,
Ingat, hidup ini sekejap tapi beresiko. jangan karena mencari kenikmatan sesaat, kita menderita berkepanjangan. Hidup bukan untuk hidup tapi untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati tapi justru karena mati itulah kita hidup. Oleh karena itu, jangan takut mati, jangan cari mati, jangan lupa mati tapi rindukanlah mati. karena mati adalah pintu untuk berjumpa dengan-Nya (Allah swt Penguasa alam semesta).
Sabtu, 13 Juni 2009
Tafakkur terhadap diri sendiri
05.31
No comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar